Rabu, 04 Januari 2012

Pengaruh Sholat di Kehidupan Pribadi dan Kehidupan bermasyarakat


Pengaruh Sholat di Kehidupan
Pribadi dan Kehidupan bermasyarakat

Pengaruh sholat di kehidupan pribadi yaitu :
1.    Mengakui Allah SWT, sebagai pencipta yang maha agung.
2.   Mempunyai pengaruh yang sangat mendalam dalam jiwa dan menuntun manusia berakhlak mulia.
3.   Dapat mencegah manusia dari perbuatan keji dan munkar.
4.   Dengan sholat kita bisa bersyukur akan karunia Allah SWT.
Pengaruh sholat di kehidupan bermasyarakat :
1.    Dapat mempererat tali silahturahmi antarsesama muslim.
2.   Jika sholat berjamaah akan mewujudkan rasa sosial yang tinggi.

SNAPSHOT


JALAN DARURAT TOL JALANAN
(TIDAK SELALU)
JALAN BEBAS HAMBATAN


            Jalan TOL seharusnya sesuai dengan namanya jalan bebas hambatan tetapi tetap saja terjadi hambatan atau sering terjadi kemacetan. Rendahnya kesadaran masyarakat untuk menaati peraturan menyebabkan jalan TOL tetap saja macet.
            Hal-hal yang sering membuat jalan TOL macet adalah sebagai berikut:
1.      Truk tidak berjalan sesuai rambu lalu lintas
2.      Pedagang asongan sering berjualan di sepanjang jalan TOL
3.      Mobil angkutan umum sering menurunkan penumpang di jalan TOL

Salah satu warga di wawancarai mengenai jalan TOL mereka mengatakan : “Boro-boro Community Development jalan TOL cuman mikirin keuntungan” dan menurut para masyarakat tampaknya tidak dianggap oleh operator jalan TOL.
Awal September 2007 jalan TOL menaikkan tarif, seharusnya pelayanan jasa juga bertambah, ketertiban di jalan TOL seharusnya lebih diwaspadai.
Tidak dibukanya semua jalan TOL penyebab kemacetan dan para pegawai jalan TOL mengatakan “Siapkan uang pas” agar macet dapat ditanggulangi.

CERPEN : PERSAHABATAN SEJATI (PART 3 "Indahnya Sebuah Keikhlasan") EKONOMI KOPERASI


PERSAHABATAN SEJATI
(PART 3 “Indahnya Sebuah Keikhlasan”)

“Bertengkar dalam persahabatan itu biasa, karena itu mengajarkan kita untuk lebih dewasa”
Lagu cublak-cublak suweng dari Jawa timur membahana sekolahku tanda bel masuk kelas di awal kelas 2 SMP  ini, aku mendapat kelas yang terpisah dari Putri dan Sherly sedih sekali rasanya. Tapi aku sekelas dengan Wiwin dan Firman , ya setidaknya ada yang aku kenal di kelas ini. Aku pun duduk dengan Wiwin karena ia satu-satunya teman yang aku kenal di kelas ini sekarang.
Aku juga berkenalan dengan dua teman baru yaitu Rinda dan Tiara mereka berdua merupakan cewek popular di SMP ini ternyata. Tiara sangat cantik , ia juga seorang model dan dancer bahkan suaranya ketika bernyanyi begitu bagus, tubuhnya tidak terlalu tinggi tapi terlihat pas dan membuat iri bagi yang melihat, kulitnya seperti salju dengan mata dan alis yang indah serta senyum yang menawan apalagi dengan kepribadian dia yang benar-benar lemah lembut serta baik hati. Dan Rinda adalah seorang bintang lapangan basket wanita dia merupakan kapten basket tim basket putri smpku. Dua orang popular itu kini jadi teman baikku. Dan sekarang aku bergaul di SMP dengan mereka, membuatku menjadi popular juga.
Karena Wiwin teman sebangku aku merasa di teman terdekatku sekarang, aku percaya padanya. Amat sangat percaya sampai ketika sebuah peristiwa membuatku begitu sakit.
7 bulan kemudian di kelas 2 SMP…
“Bulan tolong bawa buku-buku ini ke kelas 2A, B dan C ya bagikan sama teman-temanmu PR nya sudah Ibu periksa” kata Bu Herna guru pelajaran biologi ketika aku sedang ke kantor guru memberikan absen ke wali kelasku, kebetulan kelas 2 ini aku menjadi sekertaris kelas.
“Baik bu” ucapku.
 Dengan susah payah aku membawa buku dari 40 siswa di tiap kelasnya, berarti ada 120 buku di kedua tanganku sekarang dan itu berat sekali. Aku mengantarkan 1 persatu ke tiap kelas, hingga sampai kelasku aku membagikan aku merasa ada yang menjegal kakiku hingga buku-buku aku terjatuh.
Brakkkk !
Tapi aku tidak jatuh karena sadar di depan ku ada Firman yang memegangi dan tidak sengaja pipiku menyentuh pipinya, aku melonjak kaget.
“Niat mau nolong, ternyata dapat untung” katanya menggodaku.
Aku malu sekali, tanpa sadar menangis dan lari ke toilet. Ketika kembali ke kelas aku hanya diam dan ketika suara bel berbunyi aku langsung pulang dengan segera.
Sesampai di rumah aku menangis tiada henti, sampai om ku bertanya. Dia adalah Om Wahyu namanya dia orang batak , badannya gemuk tinggi , perut buncit, rambut klimis dan kulit putih, bibirnya yang hitam menunjukkan betapa ia adalah seorang perokok berat.
“Bulan kenapa nangis?” Tanya Om Wahyu.
“Bulan Takut Hamil om” kataku sambil terisak tangis.
“HAMIL?! memangnya kau ngapain, kau punya pacar?” Tanya Om Wahyu.
“Engga om, Bulan gak punya pacar” jawabku tambah kenceng suara tangisku.
“Cep..cep..ceritakan sama Om, Siapa yang ngapa-ngapain kau. Tenangin diri kau” Om Wahyu berusaha menenangkan.
“Itu kecelakaan Om dan baru saja terjadi” Jawabku tangisku makin pecah.
“Ini minum air nya biar tenangan” Om Wahyu memegang segelas air putih di tangannya.
Aku pun minum perlahan sambil terus terisak tangis, perlahan tangisku pun mereda.
“Coba ceritakan sama om apa yang terjadi?, kau memang udah telat berapa bulan?” Tanya Om Wahyu.
“Itu kecelakaan Om dan baru saja terjadi, ha? Telat apa om? Kayak sekolah aja” tanyaku dengan bingung,
“Telat datang bulan anakku” ucap Om ku dengan sabar.
“Datang bulan aja belum pernah Om” jawabku.
“Lalu kenapa kamu pikir kamu hamil?” tanyanya bingung.
“Tadi di sekolah aku kebetulan jatuh lalu gak sengaja menyentuh pria” jawabku
“Menyentuh apanya?” Tanya Om Wahyu heran.
“Pipinya menyentuh pipiku” jawabku Polos.
“HAHAHAHAHA….” Om Wahyu tertawa dengan keras.
“Kok Om malah ketawa si ini serius” sambil mendengus.
“Aduh, Bulan kau benar-benar lucu. HAHAHA…” Dengan tawa yang makin keras.
“Om, ngeselin Bulan nangis lagi ni” pasang tampang cemberut.
“Ok ok Maaf, sekarang Om Tanya. Kenapa kau berpikiran kau hamil?” tanyanya menahan tawa.
“Kata mama kalau bersentuhan dengan laki-laki selain yang ada hubungan darah nanti bisa hamil” jawabku polos.
“HAHAHA… si kakak itu ada-ada aja membohongimu” Tawanya makin keras.
“Ha? Mama bohongin aku om? Jadi aku gak hamil” Tanyaku dengan mata berbinar-binar.
“Ya, enggaklah anakku mana bisa hamil kalau belum datang bulan” Jawabnya dengan logat bataknya.
“Alhamdulillah klo gitu, aku sudah takut setengah mati. Lalu yang buat wanita bisa hamil itu apa Om?” Tanyaku polos.
“Nanti kalau belajar biologi kau tanya saja sama gurunya, udah ah Om mau mandi” Berlalu sambil mengacak rambutku.
“Awas ya Mama” Mengumpat dalam hati.
Keesokan harinya…
“Bulan kemarin kenapa nangis?” Tanya ayu teman sekelasku. Ayu memiliki wajah yang manis dengan lesung pipi dan bibir tipis serta hidung mancung dan kulit sawo matang, dia tidak tinggi juga tidak pendek sayangnya dia terlalu kurus.
“Aku gak enak badan Ayu mungkin capek membawa buku sebanyak itu kemarin, hehe” Jawabku berbohong.
“Oh, gitu. Maaf ini sebelumnya Bulan tapi kemarin aku melihat dengan jelas Wiwin yang menjegal kaki kamu, bukannya menghasut tapi terserah kamu mau percaya apa enggak” Ayu berkata.
“Masa sih? Kamu salah liat kali yu, mana mungkin Wiwin menjegal kaki aku. Dia kan teman sebangku aku” Jawabku sambil tersenyum.
“Tapi bener bulan aku liat…..” Sebelum ayu menyelesaikan kata-katanya ada yang memotong.
“Liat apa yu?” Wiwin memotong.
“Gak liat apa-apa kok Win, yuk masuk kelas” Jawabku.
Bel pun berbunyi tanda istirahat…
Aku sudah janjian dengan Putri , Sherly serta Wiwin untuk membawa bekal. Dan kita makan di kelas ku berempat. Tiba-tiba Rinda dan Tiara lewat…
“Wah, Bulan kamu bawa bekal” Kata Tiara Lembut.
“Wah, Bekalnya udang tepung enak sekali” Kata Rinda ngiler.
“Iya ni, kalian mau? Kebetulan aku bawa banyak, sini aku suapin” Jawabku sambil tersenyum.
“Asik-asik! “ Jawab mereka senang sambil menarik bangku bergabung dengan kami.
“Tiara, Rinda mau cobain bekal kita juga gak?” Kata Putri dan Sherly.
“Wah, makasi kalian memang baik pantes aja jadi sahabatnya Bulan yang super baik ini” Kata Rinda.
“Ngerayu yak arena di kasih udang. Haha “ Candaku.
“Yaaaa. Ketauan , tapi ngomong-ngomong ya lan. Aku bingung kok kamu bisa jatuh kemarin kamu kesandung apaan kali tuh lan” Kata Rinda.
“Iya aku juga bingung, gak mungkinkan keberatan kan jelas-jelas buku yang kamu pegang gak banyak-banyak banget” Kata Tiara.
“Mungkin aku pusing” Jawabku seadanya, sebenarnya aku juga merasa ada yang menghalangi kakiku tapi aku gak tau apa.
“Aku mau ke toilet dulu ya” Ucap Wiwin tiba-tiba dengan wajah pucat.
“Wiwin kamu sakit? Wajah kamu pucat banget” Kataku sambil memegang jidat Wiwin dengan wajah khawatir.
“Enggak tiba-tiba aja aku pusing, mungkin karena terlalu malam tidur habis belajar semalam” Jawab Wiwin sambil bediri.
“Wah, kamu memang rajin belajar ya pantas pintar sekali” Ucapku tersenyum.
“Iya lan” Jawab Wiwin singkat.
Keesokan harinya,,,,
Brakkkkk !
Bunyi sebuah buku melayang memukul kepala Ayu, aku sontak terkejut melihat siapa yang melempar. Itu Rinda.
“Maksud lo apa lempar buku ke kepala gw! Gak sopan amat lo” Jawab Ayu dengan emosi.
“Lo yang apa-apaan, gak tau malu banget lo ya suka sama cowok gw!” Sambil membuka buku dan menjukkan tulisan (Ayu Nastiti http://static.ak.fbcdn.net/images/blank.gif Denny Chandra).
“Lo dapet ini darimana da? Ini memang buku gw tapi ini bukan tulisan gw sumpah” Tanya Ayu dengan wajah kaget.
“Gak perlu tau ya gw dapet dari mana, ngaca dong lo kalo suka sama orang. Lo piker lo PANTES” Kata Rinda Keras.
“Sumpah nda, gw tu cuman sekedar ngefans aja. Karena di jago taekwondo. Gak lebih” Kata Ayu memohon.
“Lo tuh!” Memukul buku itu kembali di muka Ayu yang menangis.
“RINDA! Lo keterlaluan tau gak, atas dasar apa lo berani ngelarang menyukai orang” Ucapku marah.
“Tapi dia suka sama cowok gw lan, liat aja sama tulisannya yang menjijikan ini” Jawabnya Ketus.
“Dia udah bilangkan dia hanya ngefans, gak lebih. Minta maaf cepat!” Ucapku gak kalah galak.
“Minta maaf? Gak sudi gw, jadi lo belain dia? Jangan nyesel lo ya lan!” Ucap Rinda marah sambil pergi.
“Rinda jadi marah sama lo kan, harusnya lo gak belain gw lan. Lo bisa di musuhin anak-anak” Ucap Ayu Sedih.
“Gpp yu, lagi pula dia emang udah keterlaluan jangan sedih lagi ya” Ucapku sembari menghapus air mata Ayu.
“Makasih ya lan” Ucap Ayu tulus. (aku hanya tersenyum)
Dan mulai saat itu aku dimusuhi anak-anak di kelas terlebih anak laki-lakinya kecuali Firman tentunya, Ayu pun tidak berani menegurku saat ada Rinda, bahkan Wiwin sampai pindah duduk dan sering ikut mencemoohku dengan mengungkap rahasia yang aku cerikan padanya di kelas. Aku benar-benar sendiri sekarang, ternyata pertemanan hanya segini. Tapi ya, aku masih punya Sherly dan Putri itu saja cukup.
“Lan” Sapa Tiara di toilet.
“Tiara, aku kira kamu gak mau menyapa aku lagi” Jawabku sambil tersenyum.
“Maafin aku ya lan, aku gak berani deket kamu kalau ada Rinda. Takut dia makin marah entar kamu tambah di jauhin anak-anak” Ucap Tiara tulus.
“Gpp ra, aku tahu ternyata kamu gak musuhin aku aja, aku udah seneng. Makasi yah ra” Ucapku ceria.
“Sabar ya lan, aku lagi cari bukti buat nunjukkin ini ulah Wiwin” Ucapnya.
“Ini ulah Wiwin?” Kataku kaget.
“Iya lan, aku tau dari Ayu dia liat dengan jelas yang ngejegal kaki kamu itu jelas-jelas wiwin. Makanya pas kita bahas istirahat waktu itu dia langsung pucetkan, dan Ayu juga yakin bukunya di coret-coret sama Wiwin. Karena dulu mereka itu satu Sd dan tulisan mereka berdua memang mirip, kata Ayu Wiwin dulu teman baiknya cuman semenjak dia menang cerdas cermat ketika Sd Wiwin jadi berubah sombong dan gak mau kalah. Jadi itu pasti ulah Wiwin, karena Wiwin tau Ayu suka sama Denny sejak masuk ke SMP ini.” Cerita Tiara.
“Kenapa Wiwin ngelakuin itu ke aku sama Ayu ra? Aku salah apa ya ra?” Ucapku sedikit sedih.
“Dia iri sama kamu lan. Dia itu dari awal SMP suka sama Firman kata Ayu, tapi sama Firman di cuekin. Dan Firman baru tertarik dan baik sama cewek itu sama kamu doang lan, terlebih lagi sekarang di kelas nilai kamu selalu mengalahkan Wiwin. Itulah yang menyebabkan Wiwin jadi makin iri sama kamu.” Terang Tiara.
“Jadi aku salah ya ra, terus kenapa dia juga jahatin Ayu?” Tanyaku.
“Itu karena dia denger Ayu ngomong kalau Wiwin lah yang buat kamu jatuh waktu itu” Ucap Tiara.
Aku kaget mendengarnya, yang aku tau aku mau nangis yang keceng dirumah.
Seiring berjalannya waktu anak-anak di kelas mulai baik lagi denganku, entah karena apa tapi anak cowok di kelasku benar-benar jadi memihakku. Sempat terpikir ini karena Firman, entahlah tapi apabila benar aku harus bilang terimakasih padanya.
Dan Tiara mulai menarik Rinda lagi bermain denganku saat emosinya reda, kami pun berteman lagi ditambah Sherly dan Putri kami berlima jadi benar-benar tak terpisahkan. Wiwin pun duduk di sampingku lagi, tapi dia hanya diam. Kadang aku ajak bicara dia juga jawab hanya seperlunya.
Setahunpun berlalu, aku sudah menginjak kelas 3 SMP. Aku sudah mau Lulus !
Sore itu aku belum pulang dari sekolah karena ada yang harus di rapatkan masalah perpisahan SMP oleh Osis, ya aku jadi anggota Osis dan menjadi sekertaris osis. Ketika aku kembali ke kelas hendak mengambil barang yang ketinggalan, aku melihat Wiwin menangis di salah satu kelas. Kelas 3 aku tidak sekelas lagi dengan Wiwin. Aku mendekatinya…
“Wiwin kamu kenapa?” Tanyaku cemas.
“Gak usah peduliin gw lan” Jawabnya ketus.
“Klo ada masalah bilang siapa tau aku bisa bantu” Jawabku tulus.
“Kenapa sih lan lo masih baik sama gw? Jelas-jelas gw uda jahat sama lo” Tanya Wiwin.
“Mamaku selalu mengajarkan, Jangan balas kejahatan dengan kejahatan. Tapi, balaslah setiap kejahatan dengan kebaikan. Dengan begitu dia akan menyadari sendiri kesalahannya, kalau kita membalas dia dengan kejahatan kita gak ada bedanya dengan dia. Belajar untuk memaafkan itu jauh lebih baik, ikhlas” Jawabku sambil tersenyum.
“Maafin gw ya lan, semoga lo mau maafin gw dan mau jadi sahabat gw lagi” Ucap Wiwin memelukku sambil menangis.
“Aku uda maafin kamu jauh sebelum kamu minta maaf, dan aku selalu menganggap kamu sahabatku” Ucapku Tulus.
Sejak, saat itu kami menjadi sahabat walaupun sudah lulus SMP, berbeda SMA kami tetap bersahabat sampai kapanpun. 
“Ketika melihat ke belakang itu menyakitkan dan kamu takut untuk melihat ke depan, kamu dapat melihat kesamping kamu dan sahabat terbaik kamu akan ada disana” (Maggie Lee).
-TAMAT-


 Karangan Sendiri : Yana Wulandari :)



Selasa, 03 Januari 2012

CERPEN : PERSAHABATAN SEJATI (PART 2 "Saling Membantu")


PERSAHABATAN SEJATI (PART 2 “Saling Membantu”)

“Sahabat itu harus saling memberi bukan hanya mau diberi, dalam persahabatan saling membantu itu adalah hal yang terpenting”
Di pagi hari yang mendung semendung hatiku aku melangkahkan kaki menuju sekolah, karena hari ini pelajaran matematika dan ulangan harian aku benar-benar sebal hari ini. Aku memang cepat dan suka dalam menghitung karena ketika Sd Di Surabaya di ajarkan menghitung dengan menggunakan kecepatan otak dan tidak menggunakan alat bantu apapun. Tapi yang namanya matematika itu luas dan sangat banyak rumusnya bukan hanya menghitung tapi menggunakan logika dan sebulan lagi ujian kenaikan kelas  hari ini ujian harian aku mulai frustasi karena tidak mengerti. Sudah 4 bulan aku sekolah di sini di SMP Negri 19  yang merupakan salah satu SMP favorit di Tangerang.
“Uda belajar?” Tanya putri ketika aku duduk.
“Uda sih, tapi aku gak yakin karena pada saat belajar dirumah aku mengerti tapi saat bertemu soal rasanya aku amnesia mendadak. Kenapa matematika itu harus ada” kataku sambil cemberut.
“Aku juga nih, sepertinya otak aku lagi eror hari ini” kata Putri.
“Tiap hari kamu mah emang tiap hari otaknya eror put” Sahut Sherly dari belakang kami.
“Enak aja ! tau deh yang pinter matematika” kata putri sambil cemberut.
“Makanya belajar yang bener jangan pikirin Irfan terus. Hahaha….” Goda Sherly ke Putri.
“Ih, siapa juga yang mikirin Irfan pacar juga bukan. Dia tuh yang suka mikirin aku. Lagian kalian curang pinter matematika duduknya sebangku” kata Putri sambil mendengus kesal.
Aku dan wiwin (teman sebangku Sherly) hanya tertawa melihat mereka bertengkar. Kadang aku berpikir kenapa wiwin sepertinya tidak menyukaiku, entahlah tapi mungkin perasaan aku saja. Wiwin adalah keturunan jawa tulen dengan kulit hitam, mata belok, tubuh kurus dan tidak tinggi, gigi gingsul serta rambut sebahu.
“Uda belajar belum lan?” ada suara laki-laki dibelakangku dan ketika aku menengok itu suara Firman. Ya, kata teman-temanku dia menyukaiku sejak aku pertama masuk sekolah. Dia memiliki tubuh tinggi proporsional, kulit putih, mata coklat dan rambut cepak. Dia bintang lapangan basket dan dengan fisik seperti itu pantas saja banyak anak kelas lain yang menaruh hati padanya. Bahkan kakak kelas tiga pun pernah ada yang menembaknya. Mengejutkan bukan !.
“Uda man” Jawabku malas, entah mengapa aku tidak suka padanya dia itu bawel sekali dan pelajaran tidak ada satupun yang di kuasainya kecuali olahraga. Tong kosong nyaring bunyinya.
“Semoga bisa ya ulangannya, semangat ya Bulan” katanya sambil tersenyum, senyum yang banyak memikat hati wanita di sekolahku kecuali aku dan wanita-wanita yang mempunyai otak waras.
“Ahela, man gaya lo nyemangatin Bulan. Kayak lo bisa aja entar ulangan” Ledek Sherly.
“Sirik aja” firman menjitak Sherly sambil berlalu meninggalkanku dan kembali ke teman-temannya di belakang, ya yang namanya anak laki-laki memang suka duduk di belakang bukan.
Bunyi bel tanda masuk pun berbunyi terdengar alunan lagu daerah Anak kambing saya dari NTT. Anak-anak murid pun mulai masuk dan duduk rapih, menunggu Pak Ato sang wali kelas sekaligus guru matematika kami masuk kelas. Setelah mengucapkan salam pada Pak Ato, soal ulangan mulai di bagikan. Ulangan matematika menggunakan sistem ganjil genap, yg sebelah kanan mengerjakan soal genap dan sebelah kiri mengerjakan soal ganjil. Tentu saja, karena guru kami tidak mau ada yang menyontek maka menggunakan metode ini. Aku duduk dengan putri yang lebih parah tidak mengertinya dari pada aku, tapi walaupun dia mengerti aku tidak akan bisa menyontek karena soal kami berbeda dan aku paling tidak bisa menyontek entah kenapa ada perasaan bersalah serta takut apabila menyontek, lagi pula aku tidak ada bakat itu sejak kecil.
“Kerjakan sendiri-sendiri ya, yang ketahuan menyontek langsung bapak kasih nilai nol. Waktu kalian 60 menit” Pak Ato bicara dengan tegas.
60 menit berlalu dan kertas jawaban mulai di kumpulkan, aku lemas karena tidak yakin dengan jawabanku. Kebiasaan di kelas kami selesai ulangan langsung di periksa bersama dan di bacakan nilainya oleh si pemeriksa. Dan itu mengapa aku benci pelajaran ini.
Ketika nama-nama mulai di sebut dan di bacakan langsung oleh Pak Ato sampai akhirnya absen terakhir dan itu aku. Nilaiku 50 , rasanya dunia runtuh sangat menyedihkan. Wiwin dan Wiwit mendapat nilai tertinggi 95, itu nilai yang mendekati sempurna. Sherly dengan nilai 80 dan Putri dengan nilai 25. Ya, setidaknya ada yang lebih buruk dariku dalam matematika pikirku.
“Jadi wanita itu jangan hanya menang cantik saja tapi otaknya juga harus pintar” celetuk wiwin. Aku, Putri dan Sherly mendengar. Dan hanya bisa diam, entah kenapa aku merasa kata-kata itu tertuju untukku. Dan aku merasa jadi terpacu untuk membuktikan kalau aku bisa, walaupun aku sendiri tidak yakin kata-kata itu di tujukan padaku karena banyak yang mendapat nilai di bawah 60 di kelas.
Kata Sherly di kelas Wiwin banyak yang tidak suka karena dia sombong, iri hati dan suka merendahkan orang lain karena dia salah satu yang terpintar di kelas. Dia selalu merasa dirinya sempurna. Jadi jangan terlalu dia ambil hati.
Jam istirahat aku menemui Pak Ato, aku ingin pelajaran tambahan atau bisa di sebut dengan les. Dan Pak Ato menyetujuinya, sepulang sekolah setiap harinya dia akan mengajariku matematika aku senang sekali. Sherly juga mengajarkanku ketika di kelas, beruntungnya punya teman yang baik. Putri bersikeras tidak mau belajar karena dia malas katanya. Dan sampai akhirnya aku benar-benar mengerti matematika, ternyata itu pelajaran yang menyenangkan. Ada kebahagiaan tersendiri ketika bisa menjawabnya, aku sangat berterima kasih pada Sherly. Dan saat ujian kenaikan kelas aku sangat percaya diri karena di bantu belajar oleh Sherly dan Putri juga.
Dan benar saja ketika rapot di bagikan aku mendapat peringkat 10, Sherly peringkat 3. Putri tidak mendapat peringkat, karena dia tidak mau belajar serius dan tentu saja peringkat 1 dan 2, masih ditempati oleh Wiwit dan Wiwin. Walaupun begitu aku senang sekali…
 
“Yang memalukan bukanlah orang yang memiliki kekurangan, tapi yang memalukan adalah orang yang memiliki kekurangan tapi tidak menyadarinya” ~PEPATAH


Karangan Sendiri : Yana Wulandari